Kematian adalah hal yang pasti namun waktunya tak ada yang dapat memastikan kecuali yang Maha Menentukan. Kehidupan adalah area seleksi hamba terbaik di sisi Tuhan, keindahan dunia adalah ujian yang sangat menegangkan berkedok keindahan dibalut kenyamanan. Jiwa dan raga hanyalah kediaman yang menemani kita menyelesaikan misi sebagai hamba yang dikendalikan. Hingga pada waktu dimana tak ada satupun hal yang bisa disombongkan.

Subuh ini aku dibangunkan oleh dua suara yang bergantian, suara pertama adalah suara indah pak ustad melantunkan adzan membuat netraku bergulat dengan kenyamanan bantal dan selimut, disahut oleh suara menyeramkan pak ustad mengumumkan berita dadakan yang sukses menohok kalbu.

“Assalamualaikum Wr. Wb, Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, telah meninggal dunia saudara kita, Ibu Jimah Kulsum, yang merupakan istri dari Almarhum bapak Sipan. Ibu Jimah meninggal tadi malam pukul 02:30 di kediaman sendiri yang InsyaAllah akan disalati ba’da salat subuh di masjid Alfatih, kemudian juga akan di makamkan di pemakaman masjid Al-Fatih.”

Seketika bulu kudukku merinding, bayangan berterbangan kemana-mana, azab-azab Allah di neraka mengingatkan pada dosa yang kian hari makin menutupi amal soleh. Pengumuman itu sontak membuat hendakku tertuju untuk melaksanak salat subuh berjamaah di masjid, padahal dalam sebulan dapat diperkirkan hanya dua atau tiga kali aku melaksanakannya.

Begita tiba di masjid aku heran melihat suasana mesjid yang sepi ayem melempem, ku kira sudah terlambat, tapi ternyata salat subuh belum dimulai dan yang datang pun hanya tiga orang, ditambah empat orang lagi yang baru datang beberapa menit setelahku. Pandanganku langsung tertuju pada keranda janazah ibu Jimah, malang sekali nasibnya karena tidak banyak orang yang datang menyalatinya, maklum saja karena almarhum hanyalah seorang penjual tikar bambu.

Paginya ku dapati beberapa tetangga berjalan beriringan di depan rumah yang ku yakini mereka sedang menuju kediaman Almarhum ibu jimah untuk bantu-bantu. Akupun segera bersiap untuk menyusul mereka. Aku ingin membantu keluarga yang sedang beduka, apalagi semasa hidup ibu jimah sangat baik kepada keluargaku, beliau selalu membantu keluargaku jika ada kesibukan acara. Dia selalu tersenyum seperti tidak pernah memiliki masalah dalam hidupnya, atau lebih tepatnya semua masalah tak pernah ia anggap masalah. Begitulah ibu Jimah dalam penilaiannku.

Hari mulai siang membuatku mempercepat langkah agar kulitku tidak terlalu lama beradu dengan sinar matahari. Tak lama kemudian kediaman duka sudah tanpak. Sebuah bangunan rumah kecil yang berdinding anyaman bambu, terlihat sedikit miring hampir roboh, lantainya hanya semen yang sudah banyak retak bahkan ada yang sudah bolong. beberapa tanaman bunga matahari dan gamboja dijejer rapi di teras rumah membantu estetika pemadangan rumah yang memprihatnkan itu. Namun, lagi-lagi pemandangan sepi yang kudapati, sepi sekali, tidak seperti sedang berduka. Biasanya akan ada banyak orang yang berkunjung jika ada yang berduka seperti ini, ada yang datang untuk bantu-bantu, membacakan tahlil, doa atau yasin dan bahkan ada yang datang sekedar untuk menghibur keluarga yang berduka saja. Oh… bertambahlah kemirisan nasib rumah sederhana itu.

Hampir aku naik ke teras rumah ibu Jimah untuk mengetok pintu, tapi sudah ada orang yang membuka pintu. Dia seoarng pria paruh baya yang sebelumnya tak prnah aku jumpai di desa ini. Dia tersenyum ramah mengingatkan aku pada senyum ibu Jimah ketika setiap kali berjumpa dan sekedar menyapa.

“Assalamualaikum” salamku kemudian menjabat tangan pria itu yang terlebih dahulu menyodorkan tangannya kepadaku.

“Waalaikum salam.. mari masuk mas” ucapnya memang benar-benar ramah, cara bicaranya halus, mirip sekali dengan gaya bicara Almarhum ibu Jimah. Dari tingkahnya bisa aku tebak kalau ia adalah putra Bu jimah yang sudah lama merantau ke luar kota.

Obrolan yang sangat hangat terjalin diantara aku dengan putra Bu jimah yang sangat ramah itu, namnaya Mas adnan, dia juga bercerita bagaimana kerasnya pekerjaan di Indonesia, sudah hampir lima tahun ia tidak pulang, tapi belum saja berhasil mengumpulkan uang untuk memperbaiaki rumah yang ditempati ibunya, Bu Jimah. Hingga takdir kepergian Bu Jimah tiba. Oh Bu Jimah, sekali lagi turut prihatin tentang nasibmu.

Selepas pulang takziyah dari kediaman Bu Jimah, baru saja tiba di rumah, lagi-lagi kudengar pengumuman yang tidak jauh berbeda dengan pengumuman tadi subuh. Ya, kabar duka kembali memenuhi ambang-ambang desa.

“Assalamualaikum Wr. Wb, Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, telah meninggal dunia saudara kita, Bapak H. Mustakim, yang merupakan suami Ibu HJ. Maryam, atau Ayah dari ananda Moh, Hakim. Bpk H. Mustakim meninggal tadi siang pukul 13:30 di kediaman sendiri yang InsyaAllah akan disalati ba’da salat asar di masjid Alfatih, kemudian juga akan di makamkan di pemakaman masjid Al-Fatih.”

Sekali lagi susunan kalimat yang diucapkan oleh pak ustad lewat pelantang suara masjid itu membuat jiwa taubatku meronta-ronta. Beruntung Allah tidak menciptakan dosa dalam wujud yang dapat dilihat oleh mata telanjang, seandainya tidak, mungkin tubuhku sudah tak terlihat tertutp oleh dosa-dosa itu, Ya Tuhan, panjangkanlah umur hambaMu agar bisa memperbaiki amal-amalnya.

Setelah shalat maghrib, aku diajak pak prajo tetanggaku untuk tahlilan di kediaman Ibu Jimah, aku mengiyakan saja ajakannya karena memang tidak ada kesibukan. Namun untuk kesekian kalinya aku mengatakan miris nasib Bu Jimah, tamu yang datang untuk membaca tahlil dapat dihitung dengan jari, hanya Sembilan orang kemudian ditambah aku dan pak prajo. Sempat disinggung oleh salah seorang tamu yang duduk di dekatku.

“Ya beginilah nasib orang biasa,” ucap bapak yang duduk di dekatku dengan suara yang dikecilkan.

“mungkin karena hujan baru reda, jalanan becek,” timpal seseorang disampingnya.

“bukan, bukan itu alasannya,” ucap pria tadi dengan nada berbisik.

“Maksunya pak?” spontan aku bertanya.

“Nanti setelah isyak datanglah ke acara tahlilan almarhum Pak H. Mustakim, nanti kamu juga tau” jelasnya.

Sebelumnya aku memang belum pernah menghadiri acara semacam ini, tapi karena seminggu yang lalu ayahku pergi ke luara kota, jadi aku sebagai anak laki-laki dan satu-satunya harus menggantikannya sementara waktu.

Rasa penasaran itu menari lincah di pikiranku, tak betah untuk mendapatkan jawabannya. Setelah shalat isyak aku segera keluar dan duduk di teras rumah sambil menunggu pak prajo memanggil dan mengajak aku ke rumah almarhum Pak H. Mustakim. Tidak butuh menunggu lama, suara lantang pak prajo memanggil namaku, dengan segera aku merespon panggilannya lalu bergegas menghampirinya yang ku yakini sudah berada di jalan.

Benar sekali perkataan bapak yang di rumah Bu Jimah tadi, Langgar dan halaman rumah Pak H. Mustakim penuh dengan warga. Sangat jauh perbandingan jumlah kehadiran tamu Bu Jimah dengan Pak H. Mustakim. Bahkan menurutku tidak pantas dibandingkan. Aku sangat heran, padahal Bu Jimah adalah orang yang baik, tapi sangat sedikit orang mengapresiasi kebaikannya itu. Sedangkan Almarhum Pak H.Mustakim yang aku dengar dari cerita pak prajo, orangnya sangat sombong dan suka merendahkan orang lain, termasuk pak prajo korbannya.

Sangka dan dugaku sedang bergulat mencari jawaban, yang pada akhirnya terjawab oleh amplop berisi foto ir. H. Djuanda Kartawidjadja dalam nuansa biru. Seiap yang hadir mendapatkannya dengan wajah berseri. teka-tekipun terpecahkan.